free web tracker
Beranda » Blog » Sisi Lain Dibalik Kemegahan Arc de Triomphe, Gapura Kemenangan Paris

Sisi Lain Dibalik Kemegahan Arc de Triomphe, Gapura Kemenangan Paris

Kisah Heroik Dibalik Kemegahan Arc de Triomphe, Gapura Kemenangan Paris

Paris tak hanya terkenal dengan Menara Eiffel-nya, tapi kota yang dijuluki ‘kota paling romantis di dunia’ itu juga menyuguhkan kemegahan sebuah Gapura Kemenangan, Arc de Triomphe namanya.

Arc de Triomphe merupakan sebuah gapura kemenangan yang dibangun atas perintah dari Napoleon Bonaparte dan dipersembahkan untuk menghormati jasa para tentara kebesarannya yang berjuang dalam pertempuran. Monumen yang menjadi latar belakang khas perkotaan di Paris itu berdiri tepat di tengah area Place de I’Etoile, bukit Chaillot.

Arc de Triomphe itu berada tepat di tengah kota Paris, letaknya di tengah persimpangan 12 jalan raya yang berbentuk bintang lima, yaitu: Avenue des Champs-Élysées (jalan utama Place de I’Etoile), Avenue de la grande-armee, Avenue Marceau, Avenue Kleber, Avenue d’Lena, Avenue Victor Hugo, Avenue Carnot, Avenue Mac-Mohan, Avenue Foch, Avenue de Friedland, Avenue Wagram dan Avenue hoche.

Pemandangan Arc de Triomphe Dilihat dari Udara

Pemandangan Arc de Triomphe Dilihat dari Udara

Sejarah Arc de Triomphe

Monumen paling fenomenal di Paris ini direncanakan akan dibangun pada tahun 1806 pasca Napoleon meraih kemenangan pada pertempuran Austerlitz. Namun proses penyelesaiaan untuk konstruksi fondasi dasar Arc de Triomphe memakan waktu hingga 2 tahun.

Pada tahun 1810, sepulang melakukan ekspansi di Austria, Napoleon yang memasuki Kota Paris bersama Archduchess Marie-Louise, ia sudah bisa melihat bentuk dari konstruksi kayu Arc de Triomphe.

Napoleon Bonaparte

Napoleon Bonaparte

Monumen megah itu digarap oleh arsitek Jean Chalgrin, namun sayangnya seorang arsitek tersebut meninggal pada tahun 1811, sehingga pembangunan Arc de Triomphe dilanjutkan oleh arsitek Jean-Nicolas Huyot.

Ketika masa restorasi Boubone, Perancis, pembangunan tempat wisata Arc de Triomphe sempat dihentikan dan pada masa pemerintahan Raja Louis-Philippe pada 1833-1836, pembangunanya tidak dilanjutkan sama sekali.

Setelah pembangunan dilanjutkan, Arc de Triomphe kemudian dijadikan sebagai titik kumpul oleh pasukan Perancis setelah keberhasilan kampanye militer serta untuk peringatan tahunan Bastille Day Parade Militer. Bahkan pada tahun 1871 di sekitar Arc de Triomphe pernah menjadi tempat pawai kemenangan bersama Jerman, tahun 1919 untuk pawai Perancis, tahun 1940 untuk Jerman, pawai Perancis pada tahun 1944 dan Sekutu pada tahun 1945.

Napoleon juga memberikan ide untuk membangun monumen tersebut dengan bangunan penting lainnya seperti Istana Louvre berada pada satu garis lurus yang seolah membelah Kota Paris (disebut juga Axe Historique).

Pada saat kematian Napoleon Bonaparte, jenazahnya pun dibawa melewati monumen Arc de Triomphe dalam perjalanannya menuju pemakaman di Invalides pada 15 Desember 1840.

Dikarenakan tujuan awal dari pembangunan monumen tersebut untuk menghormati para pahlawan yang gugur dalam medan pertempuran, maka tepat di bawah tempat wisata Arc de Triomphe terdapat sebuah makam dari seorang prajurit tanpa nama yang merupakan korban Perang Dunia I yang dimakamkan pada Hari Gencatan Senjata 1920. Bahkan di sekitar makam itu menjadi tempat menaruh karangan bunga pada peringatan Perang Dunia.

Selain sebagai gerbang kemenangan, Arc de Triomphe juga terdapat tulisan-tulisan daftar nama korban Perang Dunia I dan juga jasad para tentara dari Perang Dunia I yang kini selalu diperingati pada 11 November.

Arsitektur Arc de Triomphe

Dimensi Arc de Triomphe

Bangunan yang nilai historisnya tak pernah terkikis oleh perubahan zaman itu memiliki tinggi mencapai 50 meter (164 ft), lebar 45 meter (148 ft), dan tebal 22 meter (72 ft). Selain itu di bagian atas terdapat lengkungan kecil dengan tinggi 18.68 meter (61.3 ft) dan lebar 8.44 meter (27.7 ft), serta lengkungan besar dengan tinggi mencapai 29.19 meter (95.8 ft) dan lebar 14.62 meter (48 ft).

Relief dan Patung pada Arc de Triomphe

Relief dan Patung pada Arc de Triomphe

Relief dan Patung pada Arc de Triomphe

Sebagaimana kisah di balik Arc de Triomphe yang panjang dan memiliki nilai sejarah yang tinggi, hal tersebut juga berpengaruh pada desain dari monumen tersebut. Hal tersebut terbukti dengan adanya relief pada bagian depan tempat wisata Arc de Triomphe.

Terdapat 6 relief yang dipahat untuk mewakili momentum penting pada era pemerintahan Napoleon dan ketika Revolusi Perancis. Selain relief, pematung dari akademis Mayor Perancis juga berperan dalam membuat empat patung yang ada disisi-sisi luar Arc de Triomphe.

Beberapa pematung tersebut Antara lain Jean-Pierre Cortot, François Rude, James Pradier, Antoine Étex, dan Philippe Henri Joseph Lemaire. Dimana para pematung tersebut membuat patung dengan konsep sejarah Paris.

Salah satu dari patung di tempat wisata Arc de Triomphe yaitu bercerita tentang seorang Francois Rude yang menerima salib kehormatan pada tahun 1784 hingga 1855. Patung tersebut juga dikenal sebagai sebuah karya yang penuh semangat dan energi pada Revolusi Perancis atau biasa disebut ‘Le Marseillaise. Ada juga patung karya Antoine Étex dengan konsep Perlawanan dan Perdamaian.

Bagian Atap Arc de Triomphe

Pada bagian atas loteng Arc de Triomphe terdapat dekorasi yang dipahat oleh tentara yang berisi 30 perisai dan diukir dengan nama-nama penting dari kemenangan Revolusi Militer Napoleon. Adapun bagian atap atau bagian atasnya terdapat patung Alexandre Falguière yang sangat monumental.

Patung “Le Triomphe de la Révolution” digambarkan dengan sebuah kereta kuda yang siap menghancurkan depotisme dan anarki. Kemudian pada sisi dinding tempat wisata Arc de Triomphe tersebut terdapat tulisan yang berisikan daftar 660 nama, dan 558 diantaranya adalah nama Jenderal Perancis Kekaisaran Perancis Pertama. Nama-nama pejuang yang gugur dalam medan pertempuran ditandai dengan namanya yang bergaris bawah.

Material Arc de Triomphe

Material dari Arc de Triomphe ini terdiri dari marmer putih (carara), sebuah marmer dari Italia yang diproses dengan cara dibakar agar tidak mengkilap dan lebih menyerupai material yang bergaya klasik era awal abad ke-19.

Warna dari tempat wisata Arc de Triomphe pada awal tahun 1960 terlihat sangat kusam dan hitam. Pada tahun 1965-1966 bangunan tersebut dibersihkan dan diputihkan, namun kembali terlihat kusam dan kotor pada tahun 2007. Selanjutnya, kembali “cantik” lagi pada tahun 2011.

Akses Menuju Arc de Triomphe

Ada banyak cara untuk mengunjungi monumen klasik tersebut, mulai dari taksi, hingga transportasi publik lainnya. Jika Anda ingin berjalan-jalan dengan budget yang miring, Anda bisa memilih menggunakan kereta api RER. Selain murah, kereta tersebut juga akan membawa Anda dengan waktu tempuh yang singkat.

Ongkos untuk tiket RER sebesar 3,20 € setiap orangnya, dan Anda sudah bisa berjalan-jalan sampai di stasiun Charles de Gaulle Etoile.

Stasiun Charles de Gaulle Etoile

Stasiun Charles de Gaulle Etoile

Selain itu, dengan RER Anda akan lebih merasakan “menjadi” orang Paris dan berbaur dengan mereka. Namun jika Anda tidak menyukai atau tidak terbiasa dengan transportasi umum, Anda bisa juga menggunakan taksi atau menggunakan jasa dari penyewaan mobil.

Bagi Anda yang ingin mengendarai kendaraan sendiri, pastikan Anda sudah memiliki SIM Internasional agar tidak melanggar peraturan yang berlaku.

Saat mengunjungi Arc de Triomphe dan tempat wisata lain di sekitarnya, sebaiknya Anda juga memanfaatkan peta wisata yang lengkap beserta rute, restoran, transportasi publik, dan lainnya. Harapannya, tentu agar tidak tersesat dan bisa menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.